"Kau sedang jatuh cinta ya?"
"Kenapa memangnya?"
"Kau minum susu sapi."
"Apa hubungannya kalau begitu?"
"Kau, kan, enggak pernah suka susu sapi."
Bukannya menjawab, gadis itu malah tertawa. Rambut hitamnya sebahu berguncang-guncang mengikuti irama tawanya.
"Hei, kemarin Raya kerumahku" katanya setelah memasukkan sepotong kue ke mulutnya.
"Raya? Bus antar kota itu maksudmu?"
Gadis itu tertawa lagi. "Serius."
"Ada apa dengannya?"
"Dia ingin menjual mobilnya. Kondisi keuangannya sedang sulit, dan Ayahnya sedang sakit. Intinya dia butuh uang."
"Oh ya?" aku merespon dengan asal. "Lalu kau jawab apa?"
"Ya aku enggak sanggup membelinya sekarang ini, tapi aku bisa memberinya sedikit bantuan."
"Kau memberinya uang?"
"Meminjaminya. Hanya sedikit."
"Kau tahu kan, uang itu enggak akan kembali?" April mengendikkan bahu, masih sibuk mengunyah kue. "Kau memberinya uang seakan lupa siapa Raya dan bagaimana sikapnya padamu."
Gadis ini entah sadar atau tidak, punya kebiasaan aneh yang menurutku tidak masuk akal. Dia mudah simpati pada semua orang, dan susah untuk menolak permintaan. Tapi, karena itulah aku mengaguminya. Ia punya sesuatu yang unik. Berbincang dengannya rasanya seperti menyelam. April adalah keindahan bawah laut yang dengan daya pikatnya menarikmu semakin dalam.
"Anggap saja aku sudah lupa. Lagipula, memang untuk itu kan manusia diciptakan, untuk saling membantu" jawabnya. Hahaha, klise sekali. Aku menahan tawa dalam hati.
"Enggak semua orang senaif dirimu."
"Aku paham. Beberapa saling membantu hanya untuk mendapat pengakuan. Aku pernah sengaja diam saja karena kesal dengan keadaan walaupun setelahnya aku pasti merasa bersalah."
"Kau bisa kesal juga?" aku menutup mulut seolah-olah tak percaya, menggodanya.
April memukul lenganku dengan tas kecilnya. "Angga! Jangan begitu. Memangnya aku ini apa, malaikat?"
Iya, kataku dalam hati. Aku tak mungkin mengucapkannya. Gantinya, aku tertawa. "Tapi, serius, kau pernah kesal? Kau enggak pernah terlihat seperti itu."
"Sesekali aku kesal pada diriku sendiri karena saat itu aku mengharap mendapat imbalan untuk yang kulakukan. Memprioritaskan orang lain, selalu siap saat orang lain butuh bantuan, selalu ramah dan tidak pernah marah. Aku ingin orang lain berbuat seperti itu padaku. Maksudku, hukum alam seharusnya bekerja. Kalau kau baik pada siapapun, maka suatu saat ketika kau sedang kesulitan, akan ada seseorang yang menolongmu. Tapi kenyataannya seringkali kau harus mengorbankan apa yang kau punya demi orang lain, dan sia-sia mengharap seseorang berlaku sama padamu, karena benar katamu, tidak semua orang berpikir sepertiku. Mungkin itu alasan paling logis kenapa kita jarang bermanfaat bagi orang lain; kita tidak dapat keuntungan apa-apa, paling tidak secara langsung, seperti halnya jual beli. Tapi toh kebaikan bukan barang dagangan."
"Begitukah? Kau seharusnya rugi, April."
"Justru sebaliknya," katanya sambil menggeleng. "Aku selalu dapat apa yang kuharapkan, tepat saat itu juga. Melihat perasaan lega orang lain, atau senyumnya ketika beban mereka sedikit berkurang, itu luar biasa."
"Kau ini terlalu perasa. Kau akan bilang kalau melihat mereka bahagia itu sudah cukup bagimu, bukan?"
"Tepat sekali."
"Ck. Aku sungguh tak percaya dengan jawaban macam itu. Omong kosong kesederhanaan, manusia selalu tak pernah puas."
"Jangan terlalu berburuk sangka. Paling tidak berterimakasihlah pada mereka yang bermanfaat bagi orang lain tanpa menuntut apapun. Mereka dapat semua emosi dan perasaan bahagia orang yang ditolongnya tanpa meminta hal lain," katanya setelah meminum susu digelasnya beberapa teguk. "Dan, mereka tidak sok tahu seperti orang di depanku ini."
Aku tertawa, siapa sebenarnya yang lebih sok tahu di sini. "Boleh juga."
"Angga! Kau menghinaku ya?"
"Apa aku terlihat seperti itu? April, kau selalu membuatku mau mendengar sebuah penjelasan."
April diam, sebuah senyum terbit di bibirnya. "Kau mau kutemani berenang sore ini?"
"Lagi-lagi. Kau ini sedang naksir siapa sih?"
"Kenapa sih?"
"Sejak kapan kau mau berenang? Kau yang bilang sendiri kau pernah tenggelam dan trauma. Kenapa denganmu? Kau banyak bertingkah aneh akhir-akhir ini."
"Kau sadar juga saat aku makan durian di rumahmu? Atau saat aku memakai rok abu-abu? Atau kemarin saat aku tiba-tiba meminta ikut menonton pertandingan bola?"
"Tentu saja, April. Kau enggak pernah suka durian. Kau juga selalu memakai celana jeans, dan... sejak kapan kau menonton pertandingan bola? Aku enggak pernah tahu. Yang kutahu perempuan selalu bertingkah aneh ketika mereka jatuh cinta."
April tersenyum lagi, manis. "Kau sudah tahu, kan, ketika perempuan jatuh cinta biasanya ia melakukan hal aneh yang belum pernah dilakukan, hanya karena laki-laki yang disukainya juga melakukan hal itu."
"Kau benar-benar sedang jatuh cinta?" akhirnya yang kutakutkan datang juga. Aku tidak siap mendengar dengan siapa ia jatuh cinta.
"Menurutmu?"
"Tapi, dengan siapa?"
April tertawa kecil. "Dengan dia yang suka mengajakku ke kedai ini untuk sekedar berbincang, yang hampir enggak pernah tenggelam saat berenang, yang suka durian, yang enggak pernah melewatkan setiap pertandingan bola tim yang dijagokannya, yang suka salah genjreng saat main gitar, yang selalu meledek dan menertawakanku hampir kapanpun. Orang itu mungkin terlihat aneh, tapi aku nyaman ada di dekatnya."
Kami terdiam saling pandang. April masih senyum-senyum sendiri menatapku yang kebengongan.
"Jadi..." kataku akhirnya, "mau kuajari teknik biar enggak tenggelam sore ini?"
April mengangguk.
"Kenapa memangnya?"
"Kau minum susu sapi."
"Apa hubungannya kalau begitu?"
"Kau, kan, enggak pernah suka susu sapi."
Bukannya menjawab, gadis itu malah tertawa. Rambut hitamnya sebahu berguncang-guncang mengikuti irama tawanya.
"Hei, kemarin Raya kerumahku" katanya setelah memasukkan sepotong kue ke mulutnya.
"Raya? Bus antar kota itu maksudmu?"
Gadis itu tertawa lagi. "Serius."
"Ada apa dengannya?"
"Dia ingin menjual mobilnya. Kondisi keuangannya sedang sulit, dan Ayahnya sedang sakit. Intinya dia butuh uang."
"Oh ya?" aku merespon dengan asal. "Lalu kau jawab apa?"
"Ya aku enggak sanggup membelinya sekarang ini, tapi aku bisa memberinya sedikit bantuan."
"Kau memberinya uang?"
"Meminjaminya. Hanya sedikit."
"Kau tahu kan, uang itu enggak akan kembali?" April mengendikkan bahu, masih sibuk mengunyah kue. "Kau memberinya uang seakan lupa siapa Raya dan bagaimana sikapnya padamu."
Gadis ini entah sadar atau tidak, punya kebiasaan aneh yang menurutku tidak masuk akal. Dia mudah simpati pada semua orang, dan susah untuk menolak permintaan. Tapi, karena itulah aku mengaguminya. Ia punya sesuatu yang unik. Berbincang dengannya rasanya seperti menyelam. April adalah keindahan bawah laut yang dengan daya pikatnya menarikmu semakin dalam.
"Anggap saja aku sudah lupa. Lagipula, memang untuk itu kan manusia diciptakan, untuk saling membantu" jawabnya. Hahaha, klise sekali. Aku menahan tawa dalam hati.
"Enggak semua orang senaif dirimu."
"Aku paham. Beberapa saling membantu hanya untuk mendapat pengakuan. Aku pernah sengaja diam saja karena kesal dengan keadaan walaupun setelahnya aku pasti merasa bersalah."
"Kau bisa kesal juga?" aku menutup mulut seolah-olah tak percaya, menggodanya.
April memukul lenganku dengan tas kecilnya. "Angga! Jangan begitu. Memangnya aku ini apa, malaikat?"
Iya, kataku dalam hati. Aku tak mungkin mengucapkannya. Gantinya, aku tertawa. "Tapi, serius, kau pernah kesal? Kau enggak pernah terlihat seperti itu."
"Sesekali aku kesal pada diriku sendiri karena saat itu aku mengharap mendapat imbalan untuk yang kulakukan. Memprioritaskan orang lain, selalu siap saat orang lain butuh bantuan, selalu ramah dan tidak pernah marah. Aku ingin orang lain berbuat seperti itu padaku. Maksudku, hukum alam seharusnya bekerja. Kalau kau baik pada siapapun, maka suatu saat ketika kau sedang kesulitan, akan ada seseorang yang menolongmu. Tapi kenyataannya seringkali kau harus mengorbankan apa yang kau punya demi orang lain, dan sia-sia mengharap seseorang berlaku sama padamu, karena benar katamu, tidak semua orang berpikir sepertiku. Mungkin itu alasan paling logis kenapa kita jarang bermanfaat bagi orang lain; kita tidak dapat keuntungan apa-apa, paling tidak secara langsung, seperti halnya jual beli. Tapi toh kebaikan bukan barang dagangan."
"Begitukah? Kau seharusnya rugi, April."
"Justru sebaliknya," katanya sambil menggeleng. "Aku selalu dapat apa yang kuharapkan, tepat saat itu juga. Melihat perasaan lega orang lain, atau senyumnya ketika beban mereka sedikit berkurang, itu luar biasa."
"Kau ini terlalu perasa. Kau akan bilang kalau melihat mereka bahagia itu sudah cukup bagimu, bukan?"
"Tepat sekali."
"Ck. Aku sungguh tak percaya dengan jawaban macam itu. Omong kosong kesederhanaan, manusia selalu tak pernah puas."
"Jangan terlalu berburuk sangka. Paling tidak berterimakasihlah pada mereka yang bermanfaat bagi orang lain tanpa menuntut apapun. Mereka dapat semua emosi dan perasaan bahagia orang yang ditolongnya tanpa meminta hal lain," katanya setelah meminum susu digelasnya beberapa teguk. "Dan, mereka tidak sok tahu seperti orang di depanku ini."
Aku tertawa, siapa sebenarnya yang lebih sok tahu di sini. "Boleh juga."
"Angga! Kau menghinaku ya?"
"Apa aku terlihat seperti itu? April, kau selalu membuatku mau mendengar sebuah penjelasan."
April diam, sebuah senyum terbit di bibirnya. "Kau mau kutemani berenang sore ini?"
"Lagi-lagi. Kau ini sedang naksir siapa sih?"
"Kenapa sih?"
"Sejak kapan kau mau berenang? Kau yang bilang sendiri kau pernah tenggelam dan trauma. Kenapa denganmu? Kau banyak bertingkah aneh akhir-akhir ini."
"Kau sadar juga saat aku makan durian di rumahmu? Atau saat aku memakai rok abu-abu? Atau kemarin saat aku tiba-tiba meminta ikut menonton pertandingan bola?"
"Tentu saja, April. Kau enggak pernah suka durian. Kau juga selalu memakai celana jeans, dan... sejak kapan kau menonton pertandingan bola? Aku enggak pernah tahu. Yang kutahu perempuan selalu bertingkah aneh ketika mereka jatuh cinta."
April tersenyum lagi, manis. "Kau sudah tahu, kan, ketika perempuan jatuh cinta biasanya ia melakukan hal aneh yang belum pernah dilakukan, hanya karena laki-laki yang disukainya juga melakukan hal itu."
"Kau benar-benar sedang jatuh cinta?" akhirnya yang kutakutkan datang juga. Aku tidak siap mendengar dengan siapa ia jatuh cinta.
"Menurutmu?"
"Tapi, dengan siapa?"
April tertawa kecil. "Dengan dia yang suka mengajakku ke kedai ini untuk sekedar berbincang, yang hampir enggak pernah tenggelam saat berenang, yang suka durian, yang enggak pernah melewatkan setiap pertandingan bola tim yang dijagokannya, yang suka salah genjreng saat main gitar, yang selalu meledek dan menertawakanku hampir kapanpun. Orang itu mungkin terlihat aneh, tapi aku nyaman ada di dekatnya."
Kami terdiam saling pandang. April masih senyum-senyum sendiri menatapku yang kebengongan.
"Jadi..." kataku akhirnya, "mau kuajari teknik biar enggak tenggelam sore ini?"
April mengangguk.
- selesai -
Komentar
Posting Komentar