Langsung ke konten utama

My Daughter's Cycling Journey


Pertama kali anakku menaiki sepeda di usia 1,5 tahun dari rental mainan. Ketika ia menginjak usia 2 tahun, kami sepakat bahwa ini waktu yang tepat untuknya berkenalan dengan sepeda.

Berbekal informasi yang kami baca di internet, memang fungsi dan tujuan penggunaan balance bike dengan sepeda roda tiga atau empat itu sama, tetapi berbeda urutannya.
Dengan balance bike, anak dilatih untuk belajar seimbang terlebih dahulu, baru setelah itu dilatih kekuatan kakinya dengan setengah berlari sambil mengendarai sepeda, sehingga untuk benar-benar bisa mengendalikan sepeda roda dua lengkap dengan pedalnya, anak sudah cukup kuat dan mumpuni.
Sedangkan dengan sepeda roda tiga atau empat, anak berlatih untuk belajar menguatkan otot kakinya terlebih dahulu dengan mengayuh pedal sepeda betulan, baru kemudian jika dirasa sudah cukup kuat maka anak akan mulai berlatih keseimbangan.
Sehingga sebetulnya tujuan yang dicapai sama, hanya berbeda proses saja. Tentu saja tidak ada yang betul atau salah, ini tergantung pilihan. Anakku kebetulan suka kedua jenis sepeda dan terlihat mampu menggunakan keduanya untuk bermain, tapi di rumah, kami pilihkan sepeda roda dua tanpa pedal untuknya bermain.

Main sepeda di komplek... Masyaallah Tabarakallah

Kami pilihkan ia balance bike dengan tiga roda yang bisa diatur menjadi dua roda dengan menyatukan dua roda kecil di belakang. Pertama kali mencoba, ia tidak langsung duduk di sadelnya, tapi berdiri sambil berjalan menuntun sepedanya. Menurut kami, sepeda ini pas untuk tahap mengenalkan anak dengan sepeda.

Lama kelamaan, ia makin mahir meluncur. Kakinya semakin lebar melangkah untuk mengayun sepedanya. Hingga suatu hari di usianya yang hampir 3 tahun, ia mencoba sepeda yang disediakan di daycare, tempatnya tiap hari bermain bersama teman-teman. Caregiver-nya mengirimkan foto anakku yang sedang bermain sepeda dan memberi catatan di daily report-nya bahwa anakku cukup seimbang dalam bermain sepeda.


Suatu hari, kami sedang bermain bersama di sekitar komplek, tak lupa sepeda kuningnya yg selalu ia bawa, kemudian tiba-tiba ia berkata, “Umma, kok sepedanya berat?”

Rupanya, kemampuan badannya sudah lebih meningkat dan ia kini sudah punya perbandingan yaitu sepeda push bike yang ia coba di daycare, sehingga anakku mampu menyimpulkan bahwa sepeda kuning satu-satunya yg dipunya ini berat hahaha.

Lalu topik ini kubawa dalam diskusi bersama ayahnya, dan kami pun sepakat untuk meng-upgrade sepeda anak kami sesuai dengan skill dan usianya.

Kami mulai mencari referensi di mall maupun di market place. Karena anakku hanya punya sepeda balance bike di rumah, jadi tiap kali kami ke mall dan melewati display sepeda, ia selalu meminta naik ke sepeda kakak-kakak katanya, sepeda roda empat lengkap dengan keranjang dan boncengannya. Kami tidak coba melarang, kami biarkan ia puas mencoba segala jenis sepeda selagi gratis hehe.

Sempat berbeda pendapat, suamiku sebelumnya memilih membelikan sepeda roda empat supaya dapat dipakai terus sampai usia belajar sepeda roda dua, tapi setelah berdiskusi singkat, kami memilih membelikan race bike untuk melatih keseimbangan dan kekuatan kakinya.

Selang berapa hari, sepeda yang kami pesan lewat market place itu datang. Selain harganya tidak terlalu mahal, kami sengaja pilih bentuk sepeda yang menunjang postur badannya untuk ngebut. Awalnya aku tertarik dengan satu merek yang cukup terkenal, tapi menurut suamiku, merek tsb kurang mendukung bentuk badan anak dari bentuk stang sepeda dan sadelnya yg lebar.

Ketika anakku mencoba sepeda barunya, ia kembali seperti saat pertama kali mencoba sepeda kuning kecilnya itu. Melangkah perlahan, sebentar-sebentar turun, bahkan kembali bersepeda dengan sepeda kuningnya. Tak apa, ini wajar. Kami pun bersikap kembali seperti pertama mengenalkan ia sepeda. Tanpa paksaan, tanpa dorongan berlebihan, hanya membiarkan anak kami berkenalan dengan cara yang dirasa nyaman untuknya. Kami ajak ia berkeliling komplek, kami ajak ia ke taman, kami bawa sepedanya kemanapun kami bepergian ke area luas.

Kami juga bantu ia menyukai sepeda barunya dengan mengajaknya merawat sepeda, mengelap, membiarkan ia bermain menjadi mekanik sepeda, kami pindahkan bel ke sepeda barunya.

Alhamdulillah, lama-kelamaan ia kembali luwes dan nyaman dengan sepeda barunya. Kakinya yang semula nampak sering menapak kini mulai terangkat ketika turunan atau belokan. Kecepatannya mulai bertambah, dan ia tak ragu untuk membelok-belokkan stang sepedanya.

Main di Taman Ekspresi... Masyaallah Tabarakallah

Sesekali anakku terjatuh atau seringkali sepedanya ia jatuhkan begitu saja. Kami cek selalu, “ada yg sakit?” tanpa iba yg berlebihan, setelah itu ia lanjut bersepeda lagi. Jatuh dari sepeda bukan hal sekali atau dua kali bagi Aira, dari yang bisa ditahan hingga yang nyusruk dan gigi potel, pernah. Jatuh lalu tertawa hingga jatuh lalu nangis super kencang juga pernah. Jatuh kemudian bangun sendiri hingga jatuh dan ditolong orang lain karena posisinya jauh didepan Ayah Umma pun pernah, hahaha. Tapi mostly, setiap Aira jatuh, ia selalu mau bangun lagi dan naik sepedanya lagi. Seseru itu baginya. Tak pernah sekalipun kami larang ia menangis kalau memang sakit atau kami paksa ia menaiki sepedanya kalau memang ia tidak mau. Tugasku dan Ali hanya bergantian membawa sepeda dan memastikan kalau kami berdua selalu ada apapun situasinya.

Ah... rasanya hangat sekali melihat bagaimana perjalanan anak kami berkenalan dan bermain-main dengan gembira bersama sepedanya. Secara otomatis, bermain sepeda mampu menghindarkan anak dan orangtua dari rayuan memberi tontonan di gawai untuk mengisi kegiatan. Fisik pun juga menjadi kuat. Motoriknya terasah, terstimulasi, dan terintegrasi.


Ada banyak efek positif dari bersepeda, tak hanya untuk anak tapi juga orang tuanya. Memulai mengenalkan anak kepeda sepeda, aku setuju bahwa tidak perlu sepeda yang mahal, bahkan dulu kami sempat hampir membeli sepeda bekas di toko sepeda dekat rumah tanpa merek dan hampir usang, karena yang terpenting adalah anak terpapar dengan membiarkan ia bereksplorasi, mencari tau sendiri bagaimana cara mengendarainya utk selanjutnya bisa menyukai dan menikmati.

Yuk bersepeda!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Emansipasi dari R.A. Kartini

Orang-orang bilang masa kecil itu rasanya seperti kamu mabuk. Kamu tidak ingat apapun, tetapi semua orang tahu apa yang kamu lakukan. Itu yang terjadi padaku saat pelajaran ilmu pengetahuan sosial di bangku sekolah dasar dahulu. Aku tidak tahu apa yang terjadi dan apa yang sedang kulakukan sehingga ketika sekarang ditanya siapa pahlawan favoritku, aku akan menjawab Raden Ajeng Kartini. Gampang saja, alasannya karena aku tidak hapal latar belakang dan kisah heroik semua tokoh pahlawan nasional, serta hanya R.A. Kartini saja yang dengan kisahnya mampu membiusku untuk berkiblat pada semangat dan kepintarannya. Siapa yang tidak tahu R.A. Kartini, dengan suratnya ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ yang dengan membaca judulnya saja aku sudah merasa cerita kepahlawanannya akan sangat memukau dan penuh inspirasi. Cita-cita luhur Kartini adalah ia ingin melihat perempuan pribumi dapat menuntut ilmu dan belajar seperti sekarang ini. Ketertarikannya dalam membaca yang membuatnya memiliki peng...

Menyapih, Ternyata Ini Rasanya (Part 1)

Semuanya berawal dari puting yang lecet, dan ini bukan yang pertama kali. Bukan karena digigit, bukan karena dimainin pake jari, tapi bisa jadi karena lip tie dan perlekatan menyusui, mereka satu paket. Aku, yang selama hamil sama sekali ga mengedukasi diri tentang menyusui, sama sekali ga kepikiran untuk konsultasi ke spesialis anak atau konselor laktasi atau at least tanya ke dokter umum lah, kenapa di minggu-minggu awal menyusui bayi baru lahir ini rasanya ga nyaman bahkan sampe lecet yang berdarah-darah sampe bikin aku trauma menyusui, milk blister , bengkak, nangis teriak-teriak karena pedih banget rasanya pas nyusuin. Aku merasa hal ini tuh biasa dan pasti akan dilalui oleh semua ibu menyusui, karena banyak yang bilang ke aku dan ga cuma satu atau dua orang aja, kalau ini tuh wajar dan nanti seiring berjalannya waktu, puting bakal sembuh sendiri. Bahkan ada juga yang malah cerita tentang gimana pedihnya pengalaman menyusuinya dulu dibanding pengalamanku. Saat itu sih, bukannya ...