Orang-orang
bilang masa kecil itu rasanya seperti kamu mabuk. Kamu tidak ingat apapun,
tetapi semua orang tahu apa yang kamu lakukan. Itu yang terjadi padaku saat
pelajaran ilmu pengetahuan sosial di bangku sekolah dasar dahulu. Aku tidak
tahu apa yang terjadi dan apa yang sedang kulakukan sehingga ketika sekarang
ditanya siapa pahlawan favoritku, aku akan menjawab Raden Ajeng Kartini.
Gampang saja, alasannya karena aku tidak hapal latar belakang dan kisah heroik
semua tokoh pahlawan nasional, serta hanya R.A. Kartini saja yang dengan
kisahnya mampu membiusku untuk berkiblat pada semangat dan kepintarannya.
Siapa
yang tidak tahu R.A. Kartini, dengan suratnya ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’
yang dengan membaca judulnya saja aku sudah merasa cerita kepahlawanannya akan
sangat memukau dan penuh inspirasi. Cita-cita luhur Kartini adalah ia ingin
melihat perempuan pribumi dapat menuntut ilmu dan belajar seperti sekarang ini.
Ketertarikannya dalam membaca yang membuatnya memiliki pengetahuan yang cukup
luas soal ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Kartini memberi perhatian khusus
pada masalah emansipasi wanita melihat perbandingan antara wanita eropa dan
wanita pribumi karena kebiasaannya surat-menyurat dengan temannya di Belanda.
Selain itu ia juga peka terhadap masalah sosial yang terjadi. Menurutnya,
seorang wanita perlu memperoleh persamaan, kebebasan, otonomi, serta kesetaraan
hukum.
Mengesankan,
bukan?
Bagaimana
seseorang bisa memiliki pemikiran sedalam itu, pandangan tentang bangsanya yang
seluas itu, dan juga usahanya yang segigih itu sehingga kami, para wanita
Indonesia, dapat bersekolah, bekerja, mendapat penghidupan yang layak seperti
sekarang ini. Seorang wanita yang dapat mengubah peradaban wanita Indonesia
dengan semangat emansipasinya.
Zaman
sudah sangat berubah menjadi lebih baik sekarang. Dokter, guru, pengacara,
direktur, kepala bagian, reporter, bahkan sopir pun, kini banyak wanita
menyandangnya. Namun dengan segala kesetaraan derajat yang kita lihat sekarang,
bukan berarti perjuangan emansipasi wanita selesai. Masih banyak wanita
Indonesia yang belum mendapatkan hak-haknya secara utuh. Tidak, kita tidak
perlu berdemo memenuhi jalanan yang meminta pemerintah untuk lebih memerhatikan
wanita atau menyetarakan emansipasi wanita. Mari berjuang dengan cara yang
berbeda. Kita tidak lagi hidup di zaman pemerintahan Belanda dimana-mana,
bukan? Kita hidup di zaman Bapak Bima Arya menjabat sebagai walikota Bogor,
yang berarti segalanya telah berubah menjadi lebih modern dan mudah.
Kartini
mungkin telah tiada, bahkan namanya bisa jadi mulai dilupakan oleh anak-anak
yang kita sebut ‘kids zaman now’ ini, tapi yang tidak boleh redup
dari pikiran kita adalah bagaimana kepekaannya terhadap masa depan bangsa
Indonesia, khususnya kaum wanita. Di Hari Pahlawan ini, apa yang harus kita
teladani dari Kartini ialah bagaimana dengan seluruh ide dan pemikirannya,
dapat ia tuangkan dalam bentuk nyata, seperti membangun sekolah dan mengajari
para wanita pribumi yang kala itu belum dapat membaca sehingga mereka
mendapatkan hak dan masa depan yang lebih baik. Apa yang sekiranya hak kita,
mari terus perjuangkan. Jangan menyerah hanya karena kita tidak diizinkan berkontribusi
dibidang itu. Teguhlah pada apa yang menurut kita benar, dan percaya bahwa
suatu saat apa yang kita perjuangkan akan berbuah pada hasil yang tidak akan
mengecewakan.
Emansipasi
bukan berarti kita sebagai wanita bisa seenak-enaknya kepada pria. Emansipasi
artinya mengalah memberikan tempat duduk di kereta kepada bapak-bapak tua yang untuk
berdiri saja harus dengan tongkat penyangga, bukannya nyinyir di media sosial
hanya karena disuruh gantian berdiri oleh petugas kereta demi ibu-ibu yang
sedang hamil mendapat tempat duduk. Emansipasi bukan berarti semena-mena dan
mentang-mentang, teman. Emansipasi artinya menyamakan hak, menghargai.
Karena
sekarang ini mungkin semangat emansipasi mulai memudar dikalangan generasi muda.
Sering kudengar segerombolan anak-anak yang mungkin masih duduk di bangku
sekolah menengah pertama atau menengah atas yang tidak ingin nge-chat pacar atau gebetannya lebih dahulu
dengan alasan, “Kok aku duluan sih
yang nge-chat, kan aku cewek!”
Hmm…
begitu ya, Dik? Emansipasi tidak berlaku dalam hal nge-chat duluan ya? Oke,
siap!
***
Cerita diatas kubuat dalam rangka menyemarakkan Hari Pahlawan yang diselenggarakan oleh bagian Penyuluhan dan Layanan Informasi di kantorku. Cerita ini kubuat malam-malam disambi lembur kerjaan yang butuh waktu sekitar limabelas menit saja untuk mengetik, tapi butuh waktu semalaman di atas kasur menggenggam ponsel sambil riyip-riyip untuk mengedit dan menambal bagian yang ketika dibaca lagi selalu merasa ada yang kurang, dibaca lagi dan nambah lagi kurangnya. Menyerah, kusudahi saja bacanya dan langsung kukirim ke bagian PLI untuk turut meramaikan.
Pintar benar bagian PLI ini, mengadakan sayembara menulis tentang pahlawan favoritmu, kisahnya atau mengapa kau menyukainya, dalam rangka Hari Pahlawan. Aku benar-benar tidak mengharapkan hadiah apapun meski dalam infonya tertulis ada hadiah untuk pemenang cerita itu. Aku hanya menulis saja karena aku suka menulis. Dilihat dari pahlawannya pun kata temanku, "mainstream amat pahlawannya," bagaimana isi ceritanya, ya kan?
Eh tapi, Pak Kepala Seksi PLI punya penilaian tersendiri yang ternyata meliputi; keaslian tulisan, kreatifitas, diksi, dan isi cerita itu sendiri. Aku tidak berharap cerita ini akan memuaskan siapapun yang membaca, aku hanya ingin menyentil sedikit bagian sosial dari hidup ini yang seringkali terlewat oleh kita semua, melalui tulisan bertema pahlawan ini.
Dan ya, staf PLI tidak memberitahu apa hadiah yang akan kudapatkan nanti selain ceritaku yang di posting di website kantor. Dengan cuma-cuma dan masih dalam aura bahagia, maka kuposting saja ceritaku ini, dan bonus untuk kita semua, aku sertakan link website kantor berisi ceritaku dengan sedikit perubahan oleh staf.
Terimakasih sudah membaca, semoga terinspirasi. Selamat Hari Pahlawan!
Link website: http://bcbogor.beacukai.go.id/semangat-emansipasi-dari-r-kartini/
Komentar
Posting Komentar