Langsung ke konten utama

Sepenggal Kisah dari Serpihan Pulau di Tengah Bentala (Bagian 1)

Klik!
Akhirnya berhasil juga kuajukan cuti tiga hari untuk liburan. Hari ini hari Rabu dan aku belum menyiapkan satu hal pun yang kuperlukan untuk liburan.
Kecuali tiket dan bahan ajar.

First thing first, liburanku ini berkedok tugas. Liburanku nggak sepenuhnya liburan. Sebetulnya aku pergi dan mengajukan cuti karena ada satu hari diantara hari liburanku dimana aku harus melaksanakan tugas, yaitu mengajar.
Pernah dengar Kelas Inspirasi? Yak, seperti program itu, tugasku kali ini adalah mengajar sehari di salah satu sekolah di salah satu daerah di Indonesia, yaitu di Pulau Lombok.
Iya, Pulau Lombok.
Hanya membaca namanya saja sudah terbayang, kan, akan seperti apa liburan berkedok tugasku ini?

Seminggu sebelumnya, aku sempat dilanda galau berkepanjangan.
Biar kujelaskan. Nama tugas yang akan kulakukan adalah Kemenkeu Mengajar. Kegiatan ini sudah diselenggarakan mulai tahun lalu dalam rangka menyemarakkan Hari Oeang oleh kami, para pegawai Kementerian Keuangan. Dan aku nggak pernah absen dalam dua kali penyelenggaraan Kemenkeu Mengajar ini.
Sama seperti tahun lalu, jadwal tugas mengajar selalu bertabrakan dengan jadwal kegiatan perlombaan yang melibatkan seluruh pihak yang berkecimpung dalam keuangan negara, seperti instansi dibawah Kemenkeu, Bank, dan Taspen didaerah itu.
Perlombaan Hari Oeang tahun lalu, aku harus rela nggak turut berjuang di cabang badminton karena aku berada di Denpasar untuk mengajar. Tahun ini, aku nggak mau nggak ikut. Pokoknya aku ingin ikut lomba, kan tahun lalu sudah nggak ikut. Aku ingin merasakan sensasi bertanding.

Lho? Katanya selalu tabrakan? Lalu bagaimana dong dengan Kemenkeu Mengajarnya?
Itu juga yang menjadi pertanyaanku.
Aku stres sampai hampir meledak kepalaku rasanya. I never been this confuse before. Pilihan nggak pernah semembingungkan ini buatku.
Bayangkan, ketika kamu diberi dua pilihan yang keduanya sama-sama hal yang selalu kamu inginkan. Badminton sudah jadi kecintaanku sejak aku masih kecil sekali, dan mengajar adalah cita-citaku sejak kecil, aku ingin jadi guru.
Sangking bingungnya, aku sampai telepon Ibu untuk minta pendapat. Aku jadi merasa seperti bocah yang belum tahu mana yang baik dan mana yang buruk, belum tahu apa yang benar-benar kuinginkan. Well, I'm 22 already.
Dan sudah kuduga, jawaban Ibu pasti, "Ya kamu kan sudah dewasa, sudah tahu apa yang baik buat kamu. Masa seperti itu aja nggak bisa milih, kan kamu sendiri yang tahu inginmu seperti apa." Walaupun pada awalnya Ibu bilang untuk memilih badminton saja daripada harus jauh-jauh ke Pulau Lombok ngehitamin muka, ngabisin duit, bla-bla-bla. Katanya lagi, "Badminton aja kalau Mama. Nggak ada kamu juga Kemenkeu Mengajar akan tetap jalan. Kalau badminton nggak ada kamu, bisa saja nanti kalah. Kamu lebih dibutuhkan di kantor daripada di Lombok."
"Lho, Mama! Kan aku mau ngajar, sekalian liburan, Ma. Lagian sudah beli tiket pesawat jauh hari" sanggahku.
"Liburan itu nggak harus terus-terusan. Kalau mau ngajar kan tahun depan ada lagi. Memangnya tiket nggak bisa di refund?"
"Ya tapi kan sudah direncanakan liburannya dari jauh-jauh hari. Memangnya kalau tahun depan aku daftar Kemenkeu Mengajar lagi yakin akan diterima? Wong tahun ini saja aku berencana mengundurkan diri."
"Ya terserah kamu saja."
"Hiiih, Mama!"
Seperti itulah percakapanku dengan Ibu sampai berujung pada jawaban pamungkas Ibu, "terserah kamu saja," atau "kan kamu sudah dewasa," atau "kan kamu sudah tahu apa yang paling baik buat kamu."
Okay! Okay, Ma, okay.

Aku menurut saja, dua hari sebelum hari Rabu ini, alias hari Senin, ada jadwal pertandingan badminton babak penyisihan yang pertama. Aku sudah siap dengan segala perlengkapan badmintonku, kecuali raket.
Jangan tertawa. Meskipun aku suka main badminton, raket tidak termasuk. Raketku di rumah, sengaja tidak kubawa ke Bogor. Aku berencana untuk beli disini tapi belum jadi sampai sekarang. Kalau kata David, pasangan ganda campuranku, "Raketnya nggak penting, Ol, disini kan banyak yang punya jadi kamu bisa pinjam. Yang penting itu bisa atau nggaknya kamu main."
Aku dan tim sudah pemanasan. Sistem partai. Ada ganda putra, ganda campuran, dan ganda putri. Kusempatkan mengirim chat ke Ibu minta doa agar menang. Dan akhirnya menang 2 - 1 melawan Bank BTN (if I'm not mistaken). Seharusnya bisa 3 - 0 tapi aku dan David rupanya nggak cukup tangguh menghadapi bapak-bapak ganda campuran dari BTN. Ah, nggak apa-apa, yang penting menang dulu.

Saat itu juga, perasaan bingung kembali menohokku.
Keputusanku ada di hari Rabu.
Kalau aku lolos babak penyisihan di hari Rabu, aku janji pada Ali untuk batal ikut Kemenkeu Mengajar di Lombok dan terus maju di pertandingan badminton. Kalau aku kalah, aku akan ikut Ucup dan Djati untuk liburan dan mengajar di Lombok.
Bayangkan, hari itu hari Senin, yang artinya H - 3 sebelum aku berangkat ke Lombok dan aku belum menyiapkan satu pun. Bahkan cuti pun belum kuajukan.

Telepon dan bertanya pada Ibu jelas tidak membantu barang sedikit karena nyatanya aku masih bingung sampai hari Selasa.
Tidur nggak nyenyak. Kepikiran pertandingan dan tugas mengajar. Belum lagi bayangan pantai, bukit, dan jalan-jalan melambai indah di kepalaku meminta untuk disambangi. Akh! Kenapa sih harus bertabrakan jadwalnya?
Kalau aku lolos babak penyisihan hari Rabu, hari Senin minggu depan aku maju ke semifinal dan hari Rabu atau Kamis nya aku maju ke final.
Rencananya seperti itu kalau aku lolos hari Rabu di babak penyisihan kedua besok.

Selasa malam aku hampir nggak bisa tidur padahal Rabu pagi aku harus bersiap untuk tanding badminton.
Kupikir-pikir ulang keputusan yang akan kuambil. Masih ada malam ini. Aku belum membatalkan tiket pesawat, berjaga-jaga kalau babak penyisihan besok kalah.
Tapi bagaimana kalau aku menang?
Bagaimana kalau aku menang hari Rabu besok tapi hari Senin minggu depan saat semifinal aku kalah?
Apakah pertandingan badminton ini worth kutukar dengan batalnya kepergianku ke Lombok?
Apakah pertandingan badminton ini sebanding dengan indahnya liburan, dan keinginan mengajar dan berbagi dengan anak-anak yang kutinggalkan?
Kalau aku mengundurkan diri, apakah tahun depan aku akan diterima lagi?
Apakah semua ini worth, Ol?
Nggak.
Kurasa nggak.
Nggak akan ada penukaran yang sebanding dengan indahnya liburan, bahagianya mengajar anak-anak, atau having a long journey yang didalamnya mungkin aku akan dapat banyak sekali pelajaran hidup.
Badminton? Haha, pertandingan badminton ini? Hahahahaha.
Dasar.
Untuk apa repot-repot memikirkan pertandingan badminton yang tiap tahun selalu ada dan tanpa kamu pun pertandingan itu tetap berjalan, Ol?
Untuk apa repot-repot mengorbankan segala bayangan keseruan yang akan kudapatkan saat liburan nanti? Dapat tiket pulang-pergi yang sangat murah pula. Kapan lagi? Halo, kapan lagi, Oldia?

Kurasa malam itu aku sudah bisa tidur tenang, meski hanya tiga atau empat jam, entahlah.
Besok Rabu, menang atau kalah pertandingan babak penyisihan itu, kuputuskan untuk tetap pergi ke Lombok.
Maaf Ali, tapi aku lebih memilih apa yang telah kujadwalkan lebih dahulu.
Bismillah, semoga aku nggak salah pilihan.

Rabu pagi saat pemanasan, aku tahu aku akan lebih tenang.
Kuhampiri Ali dan meminta maaf kalau aku akan tetap pergi ke Lombok apapun hasil pertandingan hari ini.
Permainan pertama ganda putra yang dimainkan oleh Ali dan Pak Zulkifli berlangsung alot dengan rubber game, tapi berakhir kalah.
Tiba saatnya aku bermain. Kukerahkan seluruh kemampuanku agar tim kami bisa unggul 1 - 1. Aku tidak peduli apapun hasilnya. Menang kalah sama saja. Keputusanku sudah bulat.
Menang juga akhirnya.
Ganda campuran.
Skor akhir tetap kalah 1 - 2 dari KPP Depok.
Antara sedih atau senang.
Sedih karena cabang badminton lagi-lagi tidak bisa melaju sampai ke final, tapi juga senang karena dengan begitu aku nggak perlu ada beban meninggalkan badminton untuk pergi ke Lombok.

Sampai di kantor, aku langsung meminjam keril temanku untuk bisa kubawa packing.
Aku langsung menanyakan bahan ajar pada Ucup yang juga ikut mengajar sekaligus partner mengajarku di kelas nantinya. Ternyata Ucup pakai materi tahun lalu yang ternyata inti materinya sama persis dengan materi yang kupakai. Aku juga memakai materi tahun lalu. Ya sudah, jelas kalau begitu, aku nggak perlu bawa materi, cukup pakai materi Ucup ditambah puzzle kemenkeu saja.
Oh iya! Aku belum ajukan cuti! Ini sudah hari Rabu, pesawatku berangkat jam 11 malam hari Kamis. Ya ampun tinggal sehari lagi.
Langsung saja kuajukan cuti untuk hari Jumat, Selasa, dan Rabu.
Senin kulewati karena pada hari itu aku mengajar dan otomatis aku mendapat Surat Tugas agar dibebas kerjakan.
Klik!
Selesai.

Panik.
Rabu siang aku baru memilah-milah pakaian yang akan kubawa.
Maklum, wanita berhijab memang nggak pernah kalah rempong dengan wanita biasa pada umumnya. Aku sempat berpikir hendak bawa hair dryer tapi yang benar saja, baju untuk lima hari kedepan saja belum tentu muat masuk ke keril semua, mau ditambah bawa hair dryer.
Keril ku pesan untuk dibawakan pada Rabu malam, tapi nampaknya temanku lupa. Rabu malam tidak terjadi apa-apa selain aku membuat puzzle di kantor.
Sampai di kos aku berniat untuk kembali packing agar lebih siap, tapi nampaknya rasa kantuk nggak mengijinkan. Begitu duduk di kasur, tiduran, bau bantal, badan rasanya kayak udah kepisah berbulan-bulan dengan kasur. Rasanya ingin tidur aja. Mata tiba-tiba redup, dan ya, aku menyerah.

Kamis pagi.
Aku bangun kelabakan.
Ya ampun, kamar berantakan nggak keruan. Belum packing. Belum ada keril. Baguslah.
Langsung saja ku chat temanku untuk membawakan kerilnya pagi ini juga supaya siangnya aku bisa packing ke dalam keril. Pukul 10 temanku datang sambil membawakan kerilnya beserta rompi bea cukai sebagai peraga bahan ajarku.
Siangnya aku pulang ke kos berniat untuk packing dan memasukkan barang ke dalam keril, tapi sekali lagi aku masih berkutat di baju mana yang akan kubawa, memilah-milah, dan sempat tidur-tiduran hingga akhirnya jam 1 siang aku harus kembali bekerja.
I got nothing.
Belum packing.

Kamis sorenya pukul setengah lima aku pulang lebih dahulu, tanpa absen. Absen bisa nanti pas aku kesini lagi, pikirku. (yang ternyata lupa absen, baru keinget pas nulis ini)
Aku packing lagi. Kali ini yang benar-benar packing ke dalam keril. Kumasukkan baju-bajuku yang banyaknya sudah seperti mau ngungsi itu ke dalam keril, peralatan mandi, sepatu, seragam kerja (karena nanti aku mengajar dengan seragam kerja), peralatan sholat, ditambah satu tas jinjing berisi bahan ajar, dompet, jaket, alat elektronik dan keperluan pribadiku lainnya.

Kami janjian setelah maghrib berangkat. Kuiyakan, padahal aku nggak janji. Maghrib saja aku masih belum mandi, belum sholat.
Selesai sholat, Djati meneleponku menanyakan sudah siap atau belum karena dirinya dan Ucup sudah siap berangkat. Aku cepat-cepat pesan gojek ke kantor dan minta dipesankan makan malam karena aku lapar.
Sampai dikantor, aku langsung makan dan kami cepat-cepat berangkat ke pool damri di sebelah mall Botani Square. Kesananya nggak pakai helm lho. Dan itu baru pukul setengah tujuh malam, dimana ramai-ramainya orang pulang kerja. Untung nggak ketilang. Hehehe, yang seperti ini nggak perlu dicontoh ya.

Dan disinilah perjalanan panjangku mencari titik nol dimulai.

Di dalam damri kami bercanda dan saling ejek-ejekan. Hanya ada aku, Ucup dan Djati yang mulanya kita rencanakan untuk pergi berenam. Bella batal karena nggak diijinkan Mamanya, Tiwi batal karena ada keperluan mendadak, dan Arsalna batal karena harus diklat tapi batal juga diklatnya karena ia harus berjuang di cabang futsal untuk perlombaan Hari Oeang.
Ya sudah, nggak apa-apa. Kita jalan saja dengan jumlah yang ada sekarang. Berapapun jumlahnya, liburan kita tidak bergantung pada banyak tidaknya anggota, tapi pada makna yang akan kita ambil di setiap indera kita merasakannya.
Didalam bus damri dingin, tapi hangat karena ada mereka berdua.

Sesampainya di bandara Soekarno-Hatta, ternyata kami terlalu cepat. Flight masih jam sebelas malam dan kami sampai pukul setengah sepuluh.
Sambil menunggu, jadilah kami stopped by and grab some meal. Pilihan kami jatuh di A&W, yang rasanya sudah pasti sama dan seperti itu daripada cari makanan yang aneh-aneh dan belum tahu rasanya, belum tentu kenyang pula.
Ucup makan, aku dan Djati hanya makan eskrim.
Maaf ya, tapi eskrim A&W ini nggak selezat eskrim Mc'Donalds. Jatuh cinta berkali-kali aku dengan eskrimnya.
Lepas makan, kami langsung check-in, meletakkan tiga keril besar kami ke counter bagasi kemudian kami sempatkan solat isya' berjamaah.
Bandara sedang sepi malam itu.
Hanya ada kami bertiga berjalan menyusuri lorong sambil tertawa-tertawa dan bercanda. Aura liburan sudah memenuhi kepala kami, tidak sabar rasanya.

Beruntung sekali, duduk kami bertiga sederet. Aku merasa aman.
Sekedar informasi, dulu aku takuuuut sekali yang namanya naik pesawat. Lucu memang. Belum pernah naik pesawat, tapi sudah takut duluan.
Pengalaman naik pesawatku juga dalam rangka mengajar, setahun yang lalu, bersama Ucup dan Didit. Dengan drama terlambat dan ditinggal pesawat sampai lari-lari di bandara. Cukup. Sudah cukup. Kalau diceritakan nanti bisa berepisode-episode nanti.
Dan ini adalah flight kelima ku. Flight ketiga dan keempatku ada di pulang pergi Singapura. Flight ketigaku adalah flight dimana aku harus kembali berlarian di bandara karena terlambat dan flight dimana aku duduk sendirian dalam satu deret. Dua teman perjalananku ada di bangku yang terpisah. Bisa dibayangkan bagaimana perasaanku waktu itu, rasanya hampir nangis. Takut. Tapi akhirnya sudah sudah lumayan terbiasa, hanya dengan turbulence saja yang jantungku belum ingin akur, kecuali aku tertidur.

Bangun-bangun, kami sudah sampai di Bali.
Lho? Bukannya ke Lombok?
Hehehe, jadi demi mendapatkan tiket promo yang sangat murah, kami mengambil penerbangan pulang-pergi Soeta - Ngurah Rai dan Ngurah Rai - Soeta. Nggak apa-apa, kalau aku sih senang-senang saja, kan bisa sekalian jalan-jalan di Bali. Kami memutuskan ke Lombok via darat alias naik bus diatas kapal feri.
Kami sampai pukul dua pagi WITA. Perjalanan Jakarta - Bali memakan waktu dua jam, lumayan untuk tidur malam karena sampai di Bandara Ngurah Rai, kami langsung melek, nggak ada ngantuk-ngantuknya sama sekali.
Djati saking excitednya sudah berjoget-joget yang dia bilang mirip tari kecak tapi yang kami lihat sudah mirip boneka beruang mabuk. Aku dan Ucup yang tahun lalu sudah menginjakkan kaki ke bandara ini tidak seheboh Djati, jadi kami maklum. Lagipula tingkahnya lucu. Tidak salah menjadikan Djati teman perjalananku kali ini.
Kami masih tertawa-tawa, dari turun pesawat, ambil keril di tempat pengambila bagasi, sampai ke tempat pick-up.
"Mau kemana?" pertanyaan pamungkas yang akhirnya muncul.
Pukul dua pagi di Bali, mau kemana sih? Tempat makan sudah jelas tutup. Kafe? Kami belum tahu seperti apa kafe malam hari disini yang berbeda kultur dengan di Jawa.
"Ingin tidur atau ingin jalan-jalan?"
Ternyata si jiwa penjelajah kami tidak tidur malam itu. Akhirnya kami putuskan untuk jalan-jalan saja di Pantai Kuta. Dengan bermodal aplikasi ojek online, kami memesan go-car untuk membawa kami ke Pantai Kuta. Beruntung sekali kami dapat ojek online jam setengah tiga pagi.
Rupanya di tiap-tiap bandara sama aturannya. Ojek online dilarang masuk ke bandara, jadilah kami berjalan keluar bandara yang beruntungnya tidak terlalu jauh. Driver kami sudah menunggu disitu.

Jalanan menuju Kuta sepi. Mobil kami melaju cukup cepat. Sekitar sepuluh menit kami sampai di tempat tujuan.
Setelah menutup pintu dan mengucapkan terimakasih, kami bertiga lengkap dengan keril besar kami langsung berjalan masuk ke Pantai Kuta dan menyusuri jalanan berpaving di pinggir pantai.
Kami melewati pos keamanan dan penjagaan pantai.
Aku sudah punya firasat nggak enak sejak kami melalui begitu saja Bli-bli yang sedang duduk disitu tanpa menyapa. Benar tebakanku, baru beberapa langkah kami melewati sekumpulan Bli-bli didepan pos penjagaan itu, seorang Bli memanggil kami.
"Mau kemana?" tanyanya.
Pas sekali, aku dan Djati jalan berdua, sedangkan Ucup sudah jalan lebih dulu didepan kami.
"Ucup!" aku dan Djati memanggil Ucup untuk berhenti karena nampaknya Ucup nggak tahu kalau kami disetop Bli penjaga pantai.
"Hey!!"
Aku dan Djati menoleh. Asli aku takut.
Sekali teriak oleh Bli itu, Ucup langsung berhenti dan menoleh.
"Mau kemana?" tanya Bli.
Kami bertiga saling berpandangan. Oh, nggak, sebenarnya aku dan Djati sama-sama memandang Ucup untuk meminta jawaban. Aku dan Djati sama sekali tidak tahu hendak dibawa kemana kami oleh Ucup.
"Kami mau jalan-jalan saja, Pak."
"Sudah malam, mau jalan-jalan kemana? Sudah tutup pantainya."
"Kami mau ke pusdiklat di sebelah sana, Pak. Pusdiklat ini lho... aduh, lupa saya namanya. Pusdiklat apa ya..."
"Pusdiklat apa?" tanya Bli itu lagi.
Akhirnya Ucup mengeluarkan senjatanya, yaitu kartu pegawai Bea Cukai. Emang dasar. Tapi ya seperti itulah cara kerjanya. Kami hanya ingin jalan-jalan dan menikmati pantai, kami sudah bilang tadi.
"Kami pegawai bea cukai, Pak. Ada tugas disini, di pusdiklat sana." ujarnya sambil menunjukkan kartu pegawainya.
Mendadak Bli itu bersikap sedikit lunak, "Sudah tahu jalan ke pusdiklatnya? Sudah malam ini, nanti tersesat."
"Iya, tahu kok, Pak."
Kemudian Bli itu mengajak kami ngobrol satu-dua hal mengenai minuman keras hingga akhirnya kami diijinkan pamit dan kembali jalan.
"Fiuh, takut tadi aku," kataku setelah beberapa langkah menjauhi pos itu dan memastikan suara kami tidak terdengar dari jarak itu.
Ucup mengarang saja tadi. Sebenarnya dia juga tidak tahu hendak menjawab apa, dia hanya mengasal. Disebelah kanan yang kami tunjuk kami memang benar ada pusdiklat, hanya Ucup lupa apa namanya. Beberapa tahun lalu Ucup pernah workshop yang bertempat di pusdiklat itu dan sekarang menjadikannya sebagai alasan.

Lanjut ya di postingan selanjutnya?
hehehehehehehehehehehe.
Masih banyak yang seru!
Pernah dikepung anjing liar? ditipu driver gocar? atau tidur dan mandi di masjid? Wah beruntung kami pernah mengalaminya. Gimana ceritanya? Ngumpulin memori dulu yaa, sweet memories. Oh ya, ada tambahan satu personil lagi loh. Tunggu aku dan ceritakuuuu.


Foto kami berempat di Gili Meno - Okt 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Emansipasi dari R.A. Kartini

Orang-orang bilang masa kecil itu rasanya seperti kamu mabuk. Kamu tidak ingat apapun, tetapi semua orang tahu apa yang kamu lakukan. Itu yang terjadi padaku saat pelajaran ilmu pengetahuan sosial di bangku sekolah dasar dahulu. Aku tidak tahu apa yang terjadi dan apa yang sedang kulakukan sehingga ketika sekarang ditanya siapa pahlawan favoritku, aku akan menjawab Raden Ajeng Kartini. Gampang saja, alasannya karena aku tidak hapal latar belakang dan kisah heroik semua tokoh pahlawan nasional, serta hanya R.A. Kartini saja yang dengan kisahnya mampu membiusku untuk berkiblat pada semangat dan kepintarannya. Siapa yang tidak tahu R.A. Kartini, dengan suratnya ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ yang dengan membaca judulnya saja aku sudah merasa cerita kepahlawanannya akan sangat memukau dan penuh inspirasi. Cita-cita luhur Kartini adalah ia ingin melihat perempuan pribumi dapat menuntut ilmu dan belajar seperti sekarang ini. Ketertarikannya dalam membaca yang membuatnya memiliki peng...

My Daughter's Cycling Journey

Pertama kali anakku menaiki sepeda di usia 1,5 tahun dari rental mainan. Ketika ia menginjak usia 2 tahun, kami sepakat bahwa ini waktu yang tepat untuknya berkenalan dengan sepeda. Berbekal informasi yang kami baca di internet, memang fungsi dan tujuan penggunaan balance bike dengan sepeda roda tiga atau empat itu sama, tetapi berbeda urutannya. Dengan balance bike , anak dilatih untuk belajar seimbang terlebih dahulu, baru setelah itu dilatih kekuatan kakinya dengan setengah berlari sambil mengendarai sepeda, sehingga untuk benar-benar bisa mengendalikan sepeda roda dua lengkap dengan pedalnya, anak sudah cukup kuat dan mumpuni. Sedangkan dengan sepeda roda tiga atau empat, anak berlatih untuk belajar menguatkan otot kakinya terlebih dahulu dengan mengayuh pedal sepeda betulan, baru kemudian jika dirasa sudah cukup kuat maka anak akan mulai berlatih keseimbangan. Sehingga sebetulnya tujuan yang dicapai sama, hanya berbeda proses saja. Tentu saja tidak ada yang betul atau salah, ini ...

Menyapih, Ternyata Ini Rasanya (Part 1)

Semuanya berawal dari puting yang lecet, dan ini bukan yang pertama kali. Bukan karena digigit, bukan karena dimainin pake jari, tapi bisa jadi karena lip tie dan perlekatan menyusui, mereka satu paket. Aku, yang selama hamil sama sekali ga mengedukasi diri tentang menyusui, sama sekali ga kepikiran untuk konsultasi ke spesialis anak atau konselor laktasi atau at least tanya ke dokter umum lah, kenapa di minggu-minggu awal menyusui bayi baru lahir ini rasanya ga nyaman bahkan sampe lecet yang berdarah-darah sampe bikin aku trauma menyusui, milk blister , bengkak, nangis teriak-teriak karena pedih banget rasanya pas nyusuin. Aku merasa hal ini tuh biasa dan pasti akan dilalui oleh semua ibu menyusui, karena banyak yang bilang ke aku dan ga cuma satu atau dua orang aja, kalau ini tuh wajar dan nanti seiring berjalannya waktu, puting bakal sembuh sendiri. Bahkan ada juga yang malah cerita tentang gimana pedihnya pengalaman menyusuinya dulu dibanding pengalamanku. Saat itu sih, bukannya ...