![]() |
| 12 September 2021 |
Nah, dari nonton video klip lagu itu di Youtube, sebetulnya Aira udah tahu seperti apa sih odong-odong itu dan maksud dari lagu itu, tapi Aira belum pernah lihat langsung gimana bentuk odong-odong, hingga akhirnya Sabtu beberapa pekan yang lalu kami berjalan-jalan ke bundaran dekat rumah yang kalau enggak pandemi sering dijadikan tempat untuk Car Free Day, dan disana ada tukang odong-odong lengkap dengan musik anak-anak yang menyeruak ke segala penjuru tempat.
Sama excited-nya dengan Aira, aku dan suami pun juga seneng banget menemukan harta karun untuk memperkaya pengalaman Aira supaya ia bisa mengasosiasikan apa yang udah terekam dalam otaknya ke pengalaman yang nyata, dalam hal ini adalah odong-odong.
Aku sejujurnya penasaran, apa reaksi Aira ketika odong-odong beneran ini ada didepan matanya. Tetapi sesuai prediksiku, ia butuh waktu untuk mencerna.
Dari jauh, mata Aira udah fokus pada satu titik yang mencuri perhatiannya. Seorang bapak tua yang mengayuh pedal sepeda supaya empat boneka didepan gerobaknya itu bergerak pelan, sambil sesekali tangannya memijit sesuatu diatasnya yang sedetik setelahnya lagu-lagu anak dengan volume suara yang enggak bisa ditolerir telinga anak didekatnya itu berputar.
Sungguh, kalau mau ngobrol dengan orang, lebih baik menjauh dari odong-odong atau suara kalian nanti akan serak karena berteriak supaya enggak kalah kencang dengan suara musik odong-odong. Aku bertanya-tanya, pernah ada yang protes enggak sih ke tukang odong-odong soal volume suara ini? Aku yang baru beberapa menit didekatnya aja rasanya ingin segera matiin musiknya, heran kenapa si bapak bisa terlihat sangat nyaman ya:')
Oke, balik lagi, ketika udah sampai di depan odong-odong, kami tanya ke Aira, "Ada odong-odong, Dek. Kita naik yuk?" dia diam aja.
Kami coba dudukkan dia di salah satu bentuk. Ada minnie mouse, bentuk kodok, dan dua lagi bentuk motor. Saat itu ada satu anak yang duduk di odong-odong bentuk motor di baris belakang, jadi kami ambil di baris depan yang bentuk kodok supaya enggak terlalu berdekatan.
Ketika Aira udah duduk, tepat saat itu juga ia bilang, "Dak! Dak!" yang artinya enggak! sambil menjulurkan tangan minta digendong. Oke... oke... Kami angkat Aira dari kursi itu. Kemudian kami coba dudukkan lagi, dan responnya masih sama dengan tambahan, "Naik tatu ja!" maksudnya "Naik tatuk (delman) aja!"
Hahaha, baiklah.
Kami mengalah karena memang Aira belum mau dan ini wajar karena ini pengalaman pertamanya. We embrace the process. Kami menghargai perasaan Aira dan ketika ia belum mau mencoba naik odong-odongnya ya bukan masalah buat kami.
Mungkin ada banyak hal yang membuatnya kurang nyaman karena ini hal baru, seperti misalnya dudukannya yang kurang safe, atau pijakannya yang terlalu turun, atau mungkin juga karena suara musiknya yang terlampau kencang, ia enggak biasa dengan semua yang baru ini. Aira butuh ruang dan waktu, jadi kami beri ia kesempatan untuk berkenalan dengan caranya.
Sepulang dari bundaran itu, kami me-review apa yang tadi kami lakukan bersama di bundaran, seperti apa perasaannya naik delman tadi, apa yang dilakukan si kuda saat membawa kami berjalan-jalan tadi, apa yang kami makan tadi, apa Aira happy, dan tentu saja kami tanyakan tentang odong-odong nya juga. Ia terlihat mengingat sesuatu sambil kita membicarakan tentang odong-odong di mobil. Aku nangkepnya sih, dia juga penasaran dengan odong-odong itu karena ya selama ini dia hanya tahu lewat layar ponsel, sekarang odong-odong yang biasa kami nyanyikan di rumah ada didepan matanya.
Sesampainya dirumah pun, kami tetap membicarakan pengalamannya naik odong-odong yang pertama kali itu sesekali setiap hari. Beruntungnya sempat kami rekam hari Sabtu lalu ketika ia menolak naik odong-odong, dan video itu jadi salah satu bahan sounding kami untuk menawarinya naik odong-odong lagi hari Minggu nanti.
Tanpa disangka, Aira senang sekali nonton video dirinya sendiri yang pertama kali mencoba naik odong-odong. Nah dari situlah kami bantu gali tentang pengalaman pertamanya seperti misalnya tentang bentuk dudukan odong-odongnya. Di video itu kami tunjukkan bahwa Aira menaiki bentuk kodok yang kami pilihkan, lalu aku tanya,
"Adek naik bentuk kodok ya, ada bentuk apa lagi ya disana? Oooh ada bentuk minnie mouse sama bentuk motor ya?"
"Minnie mouse" kata Aira merepet ucapanku sambil mengamati video mencari mana bentuk minnie mouse yang kumaksud.
"Kalo hari minggu kita jalan-jalan lagi terus ketemu odong-odong, adek mau naik yang bentuk apa? Bentuk kodok? Apa bentuk minnie mouse?" tanyaku lagi.
"Minnie mouse" jawab Aira, matanya masih menatap layar.
"Ooh oke, kalau ketemu odong-odong nanti Aira naik yang bentuk minnie mouse ya, oke deh."
"Minnie mouse" katanya lagi sambil mengangguk.
Kemudian ia minta diputar lagi videonya sambil bergumam "Minnie mouse... minnie mouse" setiap ia melihat bentuk dudukan minnie mouse in-frame dalam video. Hehehehe.
Selain bentuk kursi, aku juga mencoba menarik perhatiannya dengan lagu. Di video itu, Aira menaiki odong-odong ketika lagu Trilili, Mari Kita Bernyanyi diputar, jadi sepanjang video itu terekam ya back song-nya suara lagu Trilili.
Aku sering menyanyikan lagu itu karena ear-catching hahaha sebenarnya ini enggak sengaja, tapi kemudian Aira ikutan suka lagu ini dan ikut joget tiap aku nyanyi. Cara Aira minta nonton video dia naik odong-odong pun dengan menyebutkan "Tiiiiyiiiiyiiii" maksudnya minta nonton video yang ada lagu Trilili nya itu hahaha. Jadi aja setiap kami nyanyi lagu Trilili pasti yang kami ingat ya video naik odong-odong.
Akhirnya hari yang dinanti tiba. Weekend ini kami ajak lagi Aira jalan-jalan di bundaran seperti weekend yang sudah-sudah, untuk naik delman kesukaannya. Aku berharap tukang odong-odongnya datang lagi dan aku bisa mencoba mengenalkan Aira lagi dengan odong-odong, bedanya kali ini lengkap dengan sounding yang udah kami tanamkan.
Benar saja, disana lengkap dan ramai sekali seperti sedang enggak PPKM. Tentu kami agak cemas dan menyesalkan ini ya, tapi mau gimana lagi, kami pun bagian dari kerumunan itu, jadi kami enggak akan protes dan tetap prokes sambil jaga jarak dengan orang-orang.
Sebelum berangkat, Aira udah dapat sounding dariku, "Adek suka naik odong-odong? Berdoa ke Allah ya, semoga nanti ada bapak odong-odongnya biar Aira naik odong-odong lagi."
Aira pun mengangguk. Dia excited untuk bertemu odong-odong lagi walaupun aku enggak terlalu yakin dia akan langsung berani menaikinya persis seperti Sabtu lalu.
Dan beruntung sekali (mungkin karena doa Aira juga) hhehe, tukang odong-odongnya sudah ada disitu (aku langsung tahu dari suara musiknya yang kuenceng) dan sedang rame-ramenya anak kecil datang. Mata Aira sudah tertuju ke satu titik dan aku mencoba menarasikannya, "Wah lihat, ada odong-odong! Nanti kita naik ya?" Aira diam saja masih memerhatikan odong-odong sambil digendong Ayahnya yang berjalan menuju delman.
Ini beneran enggak biasa Aira kemana-mana digendong, tapi mau gimana lagi, kami berdua lupa bawain Aira sandal gara-gara miskom. Ayah lebih dulu keluar rumah dan manasin mobil sambil bawa Aira. Sebelumnya kami udah diskusi bahwa Aira dibawain sandal yang kuning aja yang lebih kenceng dan enggak lepas-lepas, tapi ya udah sebatas itu aja tanpa tau siapa yang akan bawa. Aku kira Ayahnya yang bawa sambil keluar manasin mobil, eh suamiku kira aku yang bawa sekalian keluar terakhir sambil kunci pintu. Jadi aja di jalan kami sempet tuduh-tuduhan dan sedikit menurunkan mood di dalam mobil, tapi ya udah lah enggak apa-apa sesekali digendong.
Ketika selesai naik delman, kami beristirahat di lapangan terbuka yang tanahnya di plester. Disana ramai tapi di ruangan lapang itu sangat-sangat bisa untuk berjaga jarak jadi kami duduk dan makan jajanan yang kami beli disitu juga. Dari tempatnya duduk, mata Aira udah mulai mengamati odong-odong karena telinganya juga sedari tadi dengar lagu-lagu anak diputar, sampai tiba-tiba salah satu lagu kesukaannya diputar yaitu Dudidam.
Bener-bener tiba-tiba tanpa aba-aba Aira langsung berdiri dan lari menuju tempat odong-odong tadi. Beruntungnya, larinya hanya beberapa langkah karena tersadar ia lari sendirian tanpa mengajak Ummanya hahaha. Ia balik lagi, yang kemudian kembali duduk dan menunggu Ayah datang dari beli jajan sambil makan dan mendengarkan lagunya diputar.
Enggak berapa lama diputar juga lagu Trilili kesukaannya yang mengingatkannya tentang video naik odong-odong itu, seketika itu juga ia minta menuju odong-odong. Oleh Ayahnya yang udah kembali dari beli jajan, langsung digendong dan berjalan menuju odong-odong.
Naaah, ketika kita mulai dudukin ke odong-odong, seperti Sabtu lalu, dia masih belum mau. Sekali lagi kita coba, belum mau juga. Sekali lagi, tetap masih belum mau. Akhirnya kami mundur, duduk, dan biarkan aja Aira berkenalan sendiri.
Kami duduk sekitar 100 meter dibelakang odong-odong, dan Aira berinisiatif berdiri dan mendekati odong-odong itu karena sepertinya dia penasaran. Kami biarkan. Disamping itu juga kami lapar, jadi kami mau makan dulu hehehe.
Ada seorang anak kira-kira 4 tahun usianya baru saja naik odong-odong dengan bentuk motor. Anak perempuan itu terlihat percaya diri dan nyaman sekali duduk disana sambil memakai kacamata. Aira yang berdiri didekat odong-odong memerhatikan itu semua, cara si Kakak itu naik, duduk, kemudian memakai kacamatanya, dan menikmati alunan lagu odong-odong.
Aku, yang sedang makan kebab ini dan sedari tadi mengobservasi Aira sambil mengunyah, merasa ini saatnya. Kuberikan kebab yang belum habis itu pada suamiku, kemudian aku berdiri dan mendekati Aira. Sambil berjongkok, kutanya, "Wah, Kakaknya pakai kacamata ya seperti punya Aira? Kakaknya naik odong-odong seru sekali ya, Aira mau coba?"
Dan Aira jawab, "Mayuk!" alias Mauuu!
Okeee let's go!
Aku gendong Aira sambil kutanya, "Aira mau duduk dimana? Di motor aja ya, disamping Kakaknya?" dan ia mengangguk. Rupanya Aira lebih dulu tertarik ke si Kakak itu sehingga ia jadi tertarik naik odong-odong juga.
Begitu kutaruh di dudukannya, detik itu juga dia bilang, "Dak! Dak!" oh baik, masih kaku rupanya ya hehe oke kita cari posisi yang enak deh. Kesempatan kedua, kucoba memosisikan kakinya tepat dipijakan dan tangannya di pegangan motor. Sambil memosisikan, mulutku juga enggak berhenti ngomong segala macam hal, "Kakinya Umma taruh sini ya... Tangannya pegangan disini, Nak... Adek duduk disebelah Kakaknya ya, wah sama deh, sama-sama naik odong-odong ya bersama Kakaknya. Hai Kakak, aku Aira..."
Semua jerih payahku di kesempatan kedua ini terbayar dengan tidak terdengarnya suara "Dak! Dak!" yang artinya Aira udah mau naik odong-odong. HOREEEE!!!
Tapi, tangan kirinya masih belum mau melepas pegangannya pada kerudungku. Baiklah, aku enggak akan maksa, kalo memang ini bisa bikin Aira nyaman, ya enggak masalah aku disampingnya terus sampai Aira merasa berani untuk naik odong-odong sendiri.
Jadilah, kerudungku ikut naik turun mengikuti gerakan odong-odong. Aira pun masih belum menampakkan ekspresi senang atau sedih ya, mukanya masih datar hahaha tenang aja, otaknya sekarang sedang memproses banyaaaaaak sekali informasi yang ia dapat dari pengalamannya ini. Menjauh tiba-tiba atau melepaskan pegangan tangannya dengan paksa jelas enggak akan membantu banyak, malah justru mendistraksi proses di otaknya itu karena bisa jadi ia malah menangis karena belum siap dan belum merasa aman dan nyaman duduk di odong-odong.
Di awal proses berkenalan tadi kalau kita memilih untuk marah-marah atau mendorong-dorong paksa anak karena belum mau didudukin di odong-odong daripada mencoba memahami apa yang dirasakan anak, mungkin hasilnya enggak akan begini. Bisa jadi sampai waktu yang lama nanti anak akan penasaran terus dengan odong-odong tapi tidak pernah berani mencoba karena enggak tahu akan mengandalkan siapa nanti kalo ternyata ia enggak nyaman disana. Karena ketika ia ketakutan di awal tadi, ibunya bukannya memberikan comfort malah justru memarahinya. Hal-hal kecil yang enggak bisa diprediksi anak ini yang biasanya penyebab utama anak jadi mudah stres, galau, murung.
Selalu ada opsi yang lebih baik untuk hasil yang kita harapkan sama. Semua opsi tentu ada susahnya, just choose your hard wisely. Mau mengedepankan emosi sesaat kita tapi anak jadi takut terusan atau just step back and give your child time and space to explore.
Kembali lagi, setelah beberapa lagu terputar dan Aira mulai terbiasa, aku mencoba meletakkan genggaman tangan Aira di pegangan motor itu sambil menunjukkan sesuatu yang menarik untuk Aira.
"Dek, bisa belok ke kanan nih motornya" kataku sambil membelokkan setir motor dudukan odong-odong itu ke kanan. "Bisa ke kiri juga nih. Tangan Aira pegang sini ya, coba belokin ke kanan, Dek?"
tanyaku menguji Aira untuk menyetir motornya ke kanan dan ia mau. Kedua tangannya kemudian sibuk membelokkan setir motor mainan itu ke kanan dan ke kiri hingga tiba lagu Dudidam kesukaannya diputar.
Dari yang tadinya diam aja tanpa ekspresi langsung tiba-tiba badannya ikut gerak mengikuti alunan lagu hahahaha. Aira sekarang jadi bersemangat seperti lupa kalau tadi sempet enggak mau diajak naik odong-odong. Aduh, kalo ternyata lagu ini yang bisa bikin Aira goyang mah udah daritadi Umma request untuk diputer, Nak, hahaha.
Setelah lagu itu selesai, Aira pun juga ikut tenang badannya hahaha tapi tangannya masih asyik belok kanan dan kiri. Kami sengaja biarkan Aira menaiki odong-odong lebih lama sambil menunggu lagu Trilili diputar, tapi lama kami tunggu dan hari juga makin siang kok belum dapat juga ya lagu Trilili, akhirnya kami menyudahi naik odong-odong ini dan mengajak Aira pulang.
Ketika kami ajak Aira pulang, "Dah yuk?" ajakku.
Aira secepat kilat menjawab, "Agi! (Lagi!)"
Haaah?!!!
Aku dan suami langsung tertawa ngakak. Ya ampun sukses banget ini mah dari yang tadinya penasaran hingga jadi cinta. Ya udah kami kasih satu lagi lalu kami ajak pulang, dan jawabannya masih sama hahaha mau enggak mau kami angkut juga Aira sambil kami narasikan berpamitan dengan odong-odong dan si bapaknya. Aira dengan happy daadaah dan berpamitan dengan semuanya yang kemudian kami pulang dengan perasaan bahagia, puas, dan lega. Alhamdulillah....
By the way, aku udah pernah bahas tentang proses transisi anak yang berbeda dengan kita orang dewasa lengkap dengan cara bertransisinya (yang menurutku memudahkan bagi ibu dan anaknya) di story Instagram. Untuk story ini sepertinya mau aku selipkan disini aja deh supaya nyambung dengan bahasannya.
Bukan salah anak kalau dengan hal baru tuh suka agak lama transisinya, karena memang otak mereka sedang belajar mengenai transisi, terlebih kalau anak kita punya tempramen slow to warm-up seperti Aira.
Setelah melalui beberapa pertemuan di Mamaguru bersama Miss Astrid, Miss Astrid menyimpulkan bahwa tipe tempramen Aira ini slow to warm-up. Terbukti sih memang selama aku mengobservasi Aira, ia butuh diberi banyak waktu, ruang, kesempatan, dan stimulasi secara konsisten untuk menyesuaikan diri pada apapun itu: bisa mainan, makanan, tempat, orang, aktivitas, dll.
Dan Aira ini cara kenalannya dengan memerhatikan dan mengamati (observasi) baru kemudian take a small step forward hingga akhirnya adjusted dengan hal baru itu.
Jangan salah, meskipun only small step tapi berapapun besarnya langkah yang diambil Aira untuk mau go forward tetap aku hargai. Baby step is a progress too.
Aku pernah tanya ke Miss Astrid, apakah ini memang fase normal untuk anak seusianya atau ini memang tempramennya. Dan kata beliau, ini memang soal tempramen Aira.
Ketika mendengar jawaban Miss Astrid, aku sama sekali ga kaget, ga shock, meskipun ini bukan jawaban yang aku prediksi. But at least aku udah tau penyebabnya dan nothing wrong with that. Tempramen anak beda-beda dan semuanya spesial. No need to worry, justru karena udah tahu ini karena tempramennya jadi ya kami memang harus merespon apa yang ia butuhkan dengan tepat terlebih dengan cara Aira berkenalan ini.
Dan seperti yang udah kita semua baca, sepertinya cara diatas lumayan berhasil ya? Hehehe alhamdulillah.
Sebenarnya proses berkenalan ini bukan pertama kali yang aku praktekkan bersama Aira, tapi ada buanyaaak sekali hal dan pengalaman pertama yang dilalui Aira setiap hari, mulai dari makanan, buku, mainan, dan segala macam hal yang terjadi di rumah ketika hanya ada kami berdua, dan aku berusaha semampuku untuk mencoba melawan emosi dan lebih mengutamakan menerapkan teori-teori yang udah aku dapatkan selama ini.
Fiuh, susah memang, enggak ada yang bilang mudah, tapi semuanya mungkin untuk dilakukan, untuk dijalani. Trust me. Serahkan semuanya ke Allah. Aku enggak kebayang gimana jadinya kalo Allah enggak bantu kami lewat ilmu parenting. Masyaallah Tabarakallah.



Komentar
Posting Komentar